Aku kancingkan satu demi satu kancing kemeja merah darahku. Kupatut sebentar penampilanku di cermin yang sudah tidak bisa untuk bercermin. Hmmm… jambulku kurang rapi nih..
Diluar kamar aku berpapasan dengan Mak Bedheng, nenekku yang renta, yang tidak pernah memarahiku, yang melakukan semua pekerjaan rumah sendirian. Aku tidak perlu membantu banyak. Karena aku pemalas.
“Mau kemana Tong?” tanya Mak Bedheng. Ah.. aku yakin kamu tahu aku akan kemana Mak..
” Rumah Nyai”. jawabku pendek. Nyai adalah Nenek dari ibuku. Ibu yang meninggalkanku tanpa aku tahu apa salahku hingga aku ditinggalkannya. Seandainya Emak mau bersabar lebih lama lagi, seandainya Bapak mau mendengarkan emak dan berhenti dengan semua kebiasaan buruknya. Aku sendiri tidak tahu persis kebiasaan buruk bapak yang mana yang membuat emak pergi meninggalkan kami. Kata Abangku bapak suka judi, hasil kerjanya tidak pernah utuh sampai ke rumah. Kata Abangku, bapak juga suka main perempuan. Apa itu main perempuan? aku tidak mengerti.Kenapa bapak selalu membuat emak menangis? Aku hanya anak laki-laki dengan usia 11th. Yang aku tahu, aku tidak bisa lagi tidur dipelukan emak, tidak bisa lagi merasakan masakan sedap bikinan emak. Tidak ada pelukan hangat emak.
Ku selipkan jari kakiku ke dalam sandal dan melangkah keluar pagar. berjalan, menuju rumah nyai. Berharap bertemu emak disana. Tak kuhiraukan panas matahari siang ini, banyak hal yang aku pertanyakan di kepalaku. Mengapa bapak tidak bertanya padaku, apakah aku mau punya ibu baru? seandainya bapak mau mendengarkan aku dan abang-abangku.
Entah apa yang ada di kepala mereka. Mereka pikir bang Elin bisa mengurus aku? padahal dia sibuk kuliah dan bekerja?.. bekerja… aah.. aku jadi teringat kala bang Elin pulang dari kerja, o ya abangku ini, pahlawan buatku, sepulang kuliah ia bekerja di counter HP hingga larut malam. HP yang sudah tak bertuan karena biaya memperbaikinya lebih mahal daripada beli baru, diperbaikinya hingga bisa bekerja lagi. Sungguh jenius abangku yang satu ini. Pernah Bang Elin pulang membawa hp yang berhasil ia betulkan untuk aku. Untuk aku adik tersayangnya. Aku merasa hebat menggenggam hp ditanganku walau hp bekas. Tak apa.Abangku hebat! bisa kasih hp buatku…
Namun ternyata, kebahagiaanku tidak bertahan lama, bapakku, dengan kebiasaannya merenggut kebahagiaanku. Ya, dia doyan sekali merenggut kebahagiaanku!! dijualnya hp pemberian abangku itu, direnggutnya hp itu dengan paksa.Bapak berjanji, yang sudah pasti tidak akan ia tepati seperti janji-janjinya yang lain, aku akan dibelikan yang baru.. huh!! aku benci Bapak!! aku benci Bapak!! Aku meraung-raung.. menangis sekeras-kerasnya.. biar tetangga semua dengar, aku tak peduli! aku berlari.. terus berlari keluar jalan.. menumpahkan semua amarahku yang tak sanggup melawan kediktatoran bapak. Mak Bedheng hanya bisa membujukku, malah ikut menangis bersamaku…
(bersambung)
[...] Mei 1, 2009 oleh theatara Cerita sebelumnya: [...]