“Mengucapkan kata Maaf atau terima kasih itu gampang kok..” begitu bunyi status salah satu temanku…
—————————————————————————————————————————————
Aku menoleh pada kawanku, aku sebut saja si Penolong.
“Akan mudah bagi orang-orang yang ikhlas dan rendah hati. Tidak, bagi seseorang yang besar ego-nya ( tapi tidak merasa), tinggi angkuhnya (tapi tidak merasa angkuh). Yang terakhir dia tidak merasa melakukan kesalahan apapun, walaupun dia telah menyakiti hati orang terdekatnya (bahkan berkali-kali ).Seringkali tanpa disadarinya, apa yang dilakukannya, dapat berakibat fatal bagi orang terdekatnya, yang selalu ada disisinya berusaha menolong dan membelanya. Ternyata, kata “Menolong” bagi dia terdengar “Mencelakakannya”… Astaghfirullah Aladziim…” dengan kepala setengah tertunduk, kulirik, pipimu telah bersimbah airmata..
Ironisnya, ia mempunyai pendukung yang subjektif. maksudnya disini, hanya mendengarkan kisah dari sisi si dia saja, tidak dari lawannya (kok lawannya siih??). Sudah bisa dipastikan semua akan mensupport dia. Tinggal-lah, si penolong tervonis sebagai terdakwa.. Cerita menjadi terbolak-balik.. Maksud baik tidak berbalas seperti yang diharapkan si penolong. si Penolong, sudah pasti dihujani kata2 si Raja/Ratu Tega. Para pendukungnya, yang hanya mendengar dari satu sisi, kemudian melaknat dan menghujat si penolong tanpa pernah berkeinginan untuk mencari tahu dari sisi si penolong..
si Penolong, hanya bisa mengelus dada… berusaha ikhlas dengan apa yang berlaku padanya… tapi tetap sakit itu ada… bertahun-tahun si penolong selalu ditimpa hukuman, akibat dari kesalahan-kesalahan yang dilakukannya (tanpa si dia pernah menyadarinya, dan para suporternya bertepuk tangan bila si penolong didera hukuman). Astaghfirullah Alladzim… berkali-kali si penolong berbisik, dan mengelus dadanya yang terasa perih..
Si penolong kini, telah habis hati.. dia hanya mampu terdiam, hanya menunggu, hanya menonton segala polah tingkah si dia.
Si Penolong terus berharap dan terus berdoa, memohon pada Allah SWT agar tidak takkabur, tetap istiqomah,tidak menyerah, memohon diberikan kesabaran. Si penolong mulai menangis.. Air yang mengalir di pipinya tidak lagi bening… kini mulai memerah.. Bibirnya tak pernah diam, terus bergumam, memanjatkan doa, memohon agar Allah SWT, membukakan pintu hatinya, orang yang dikasihinya.. agar .. diberi hidayah.
Apa sih sebenarnya yang kau pinta, wahai si penolong? Aku yang menontonmu, kadang turut menangis, turut merasakan tersakiti, dan aku mulai geram dengan kebisuanmu. Lihatlah.. wahai si penolong, dia tak bergeming dengan pendapatnya.. bahwa dia tidak merasa melakukan kesalahan yang telah menyakitimu!!.. Sampai kapan engkau akan menunggu dengan luka yang menganga seperti itu??
“Selamanya”…
“Mulutku takkan berhenti mendoakannya, aku tak ingin dia semakin tersesat dalam keangkuhan dan keegoisannya”..katamu wahai si penolong…
“Tetapi, coba engkau lihat lagi lebih jelas” pintaku setengah memohon
” Dia malah merasa, bahwa engkau yang mendzoliminya.. Lihatlah cara teman-temannya bersimpati padanya!” aku sudah mulai setengah berteriak tak sabar.
“Bicaralah kau pada teman2nya… ceritakanlah..” aku mulai meradang.
Si penolong tetap diam tak bergeming, wajahnya tetap datar walau warna merah itu tetap membasahi kulitnya.
” Sejujurnya.. aku mengharapkan kata “Maaf” dan “Terima Kasih”, terucap dari dia dan pasangannya” suaramu tertahan
“Bukan… bukan kepadaku….” buru-buru engkau menambahkan lagi.
” Tapi kepada Ayah-bundanya”…
” Setiap hari aku menangis dan memeluk dada, kala melihatnya tertawa-tawa bersama kawan2nya, tanpa pernah sedikitpun menyapa kedua orangtuanya, dan menyampaikan sebaris kalimat “We’re Fine Ayahanda..” dari bibir mereka” Tanganmu mulai terlihat memerah, luka itu semakin parah kurasa, merembes disela jemarimu.
“Namun, hari ini aku tersadar ketika seorang temanku, mengatakan bahwa sia-sialah aku mengharapkan dia meminta maaf dan mengucapkan terima kasih, karena itu tak kan pernah terucap. Sepertinya aku harus mulai meng-ikhlaskan semuanya” tuturmu sambil menghela napas…
” Allah SWT, punya rencana”…
“Ya, aku percaya itu” Bisikmu seakan berusaha meyakinkan dirimu sendiri.
Kupeluk dirimu, kuatkanlah hatimu sahabatku.. Bersabarlah, sedikit lagi.. sedikit lagi…
Mungkin…