Sebenernya sudah lama aku ingin posting mengenai cerita ini,
waktu itu kami harus mengambil uang di atm, kebetulan ATM yang terlewati oleh kami adalah ATM BCA di Jl. Kemanggisan. Kebetulan lagi, Thea dan Tarra ingin cemilan, didekat ATM tersebut ada toko Roti yang lumayan dan harganya juga lumayan buat kantong ibunya..
Roti dan kue basah kegemaran mbak Thea, dek Tarra dan Ayah sudah kubelikan dan mereka sudah mulai memamah biak dimobil. Aku melangkah ke ATM BCA, ada 2 mesin ATM didalamnya. Seorang bapak keluar dari ruangan itu tinggalah seorang ibu yang menggunakan mesin disudut ruangan. Aku butuh lembar 100-ribuan, karena kulirik di mesin ATM dekat pintu masuk mengeluarkan lembar 50.000-an, maka aku bertanya kepada si ibu,
“Ma’af bu, mesin itu 100ribuan?”
” Bukan, 50ribuan..” jawabnya segera, terkesan terburu-buru. Bergegas si -ibu tadi meninggalkan aku sendiri di ATM.
Sedangkan bapak yang tadi keluar dr ATM masih berdiri di luar. Beberapa detik, dia memperhatikan aku dan mulai menyapaku.
” Ibu mau ambil uang atau transfer?” tanya si bapak tadi
” Kenapa Pak?” saya mulai curiga seraya berdoa dalam hati…
” Saya mau minta tolong, tadi saya mau transfer ke kakak saya tapi keliru ambil. Saya bisa minta tolong Ibu transfer ke kakak saya hanya 200ribu saja kok bu, nanti uang ibu saya ganti dengan uang saya ini.” ujarnya sambil menunjukkan lipatan uang yang ada digenggamannya.
Aku lirik lembaran uang yang digenggamnya.. ada yang aneh, kenapa ada lembaran berwarna hijau? hmmm.. bukankah.. warna itu hanya untuk lembaran mata uang 20ribuan??..
” Maaf Pak, saya tidak bisa bantu, ini bukan kartu ATM saya..” jawabku sekenanya…
” Atau ibu, transfer ke saya saja, nanti saya yang transfer ke Kakak saya, ibu saya ganti dengan uang saya ini?” tambahnya lagi..
” Maaf Pak, saya betul-betul tidak bisa dan tidak berani melanggar amanah suami saya” Jawabku dengan senyuman dan hati dag-dig-dug berharap dia tidak akan memaksa dengan cara “Lain” huuuu ngeriiiii membayangkannya. Mana ATM ini gak ada satpamnya. Mana Ayah, parkirnya agak jauh dari ATM… huhuhuhu….
Alhamdulillah dia bergeser dari tempat itu, tapi aku masih harus waspada. Yang aku khawatirkan, begitu aku keluar dari ruangan ATM itu dia menyergap diriku.. hihihi… ngeri.. Padahal yang aku ambil jumlahnya gak seberapa…
Begitu aku menutup pintu mobil dan sudah duduk disamping Ayah, berceritalah aku pada Ayah. Ayah tidak mengira ditempat yang lumayan rame begitu dan terbuka ada orang yang berani begitu…
Apa kira-kira yang ada dipikiran teman-teman yang akan dilakukan atau maksud dan tujuan si bapak tadi??…