Aku meraung-raung.. menangis sekeras-kerasnya.. biar tetangga semua dengar, aku tak peduli! aku berlari.. terus berlari keluar jalan.. menumpahkan semua amarahku yang tak sanggup melawan kediktatoran bapak. Mak Bedheng hanya bisa membujukku, malah ikut menangis bersamaku…
Kali ini bulat sudah tekad-ku..,
sengatan matahari yang dengan angkuhnya tetap bersikukuh diatas kepalaku, tidak menyurutkan niatku. Hari ini aku mau ke rumah Nyai, dan tetap membisu.
Esok,.. tidak ada sekolah lagi.. Mau apa mereka?
Aku malu dengan guru-guru, aku malu mendengar cela-an si Arif tentang kondisi keluargaku. Bapak? Emak? apalagi mak Bedheng.. tau apa mereka tentang perasaanku? Nol Besar!!..
Sore ini, sehabis mandi, yang entah bersih atau tidak, aku kembali mematut dicermin. Ah, aku tidak butuh menyisir.. aku gerakkan jemariku merapikan rambutku yang berminyak. Rambut merahku yang aku sendiri lupa kapan persisnya terakhir kali aku mencuci rambutku. Namun, siapa mau ambil peduli..
Kembali aku asyik memandangi acara televisi. Besok, aku tak akan berangkat sekolah..ya, aku telah bertekad tak kan ku injakkan kakiku di sekolah itu lagi.Mataku tetap terpancang menatap layar televisi, tidak demikian dengan pikiranku. Ya, tidur-tiduran, bermalas-malasan seperti lebih nikmat sebagai obat penawar sakit hatiku ini.
Pukul 6.00 pagi,
Mata ini rasanya ingin sekali kembali terpejam,kotoran mataku pun belum ku seka. Ketika suara bapak berteriak-teriak ngotot membangunkan aku. Aku bangun dengan kemalasan penuh. Sesuai rencana, mulai hari ini, aku mogok sekolah. Lamat-lamat kudengar bapak memaki-maki aku, dia tak tahu, aku belumlah sepenuhnya terbangun. Aku tetap diam tak bergeming. Mak Bedheng pun turut membujukku untuk segera bersekolah. Aku tetap diam ditempat dan membisu.