mbak Saminahku sayang
Dia selalu mengerti apa yang kumau..
Dia selalu mengerjakan apa yang kuminta dengan rapi..
Dia selalu bisa dipercaya..
Dia sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Baik dia sendiri maupun seluruh keluarganya.
Dia begitu baik hati dan selalu dengan tangan terbuka jika aku memohon bantuannya..
Dia sudah menjadi ibu kedua bagi anak-anakku juga aku..
Ah, apa jadinya bila dia tiba-tiba mengajukan pensiun??
Pikiran ini terlintas ketika si mbak Mus (asistenku yang menginap dirumah) minta ijin pulang kampung. Dan aku menanyakan apakah dia akan kembali atau tidak. Ketika si mbak Mus menjawab minta istirahat 1 bulan. Aku tercenung seketika.. bukan karena mbak Mus tidak akan kembali. Justru aku sekelebat terpikirkan akan mbak Sam, senior asistenku, yang telah bekerja pada kami semenjak awal pernikahan kami hingga kini aku sudah berbuntut dua. Dari anak-anaknya masih SD hingga sekarang sudah bekerja semua, bahkan mbak Sam telah memiliki cucu dari anak pertamanya. Hampir 9 tahun lhoo.. Takjub juga aku membayangkan angka itu menari-nari dalam kepalaku.
Terus terang aku adalah majikan yang bawel, reseh dan galak.. aku tidak malu mengakuinya. Tidak bisa melihat ruangan kotor, barang tergeletak sembarangan dan ada sebutir nasi jatuh dilantai..hmmm menyebalkan yah?? yah.. itulah aku. Kebersihan adalah nomor satu. Jika tidak, alergi pernapasan Ayah, Thea dan Tara akan kambuh jika terlambat mencuci gordein, sprei, sarung bantal dan bed cover..
Dan ajaibnya mbak Sam bisa melakukannya!! Apalagi jika asisten yg menginap harus mudik.perlu aku jelaskan, kenapa aku punya asisten dua orang,mbak Sam memang tidak bisa menginap karena memiliki keluarga yg harus diurusnya. Kami memaklumi itu.. terkadang suaminya dengan ringan tangan membantu pekerjaan-pekerjaan seperti membetulkan pintu, memasang lampu, memotong rumput dan pekerjaan pertukangan yang lain. Aku juga memberikan keringanan padanya untuk datang hanya 2 hari sekali. Lagipula dia bersedia datang jam 8 pagi pulang jam 8 malam. Dan semua pekerjaan beres.
Banyak hal yang aku pelajari dari wanita sederhana ini, yang pendidikannya SDpun tak selesai. Kesederhanaannya, kepatuhannya terhadap suami, kesolehahannya, mencintai pekerjaannya, cara dia mensyukuri hidup bahkan hingga cara dia mendidik anak-anaknya. Walaupun SD tak tuntas, tapi aku yakin. Jika dia mengenyam pendidikan yang layak dia pasti berprestasi! dia wanita cerdas.. bila tak percaya, aku kasih bocoran nih.. ketiga anaknya dari SD hingga SMK semuanya tidak pernah lepas dari 10 besar. dan selalu belajar di sekolah negeri terbaik di kecamatan kami. Kenapa juga saya begitu yakin dia adalah wanita cerdas?? siapa yang mengajari anaknya belajar? tentu saja dia! Suaminya, pak Tono, adalah seorang buta huruf. Ia sanggup mengatur urusan rumah tangga dan pekerjaan begitu rapinya dan tidak saling mengganggu.
Entah ada berapa puluh orang macam mbak Sam dan Pak Tono, yang pasti langka. Jika teman-teman bertemu dengannya pasti tidak akan mengira bahwa dia asli Betawi. tutur katanya halus tidak seperti orang betawi kebanyakan yang suka bicara berteriak-teriak dan ngablak. demikian juga suaminya. Jadilah anak-anak mereka pun santun. Satu kalimat yang aku tak akan pernah lupa yang aku tangkap dari perbincangan antara aku dan Pak Tono di suatu sore di beranda rumahku, ketika kami membicarakan masalah perjudian gelap yang marak dilakukan para kuli bangunan dan pegawai-pegawai rendahan. ” Saya nggak akan melakukan itu (judi) mbak. Saya takut pertanggungjawaban saya nanti terhadap Allah SWT, karena bila saya judi atau menaikkan harga bahan bangunan di bon berarti saya telah memberikan nafkah bagi keluarga saya dengan uang haram!.. saya gak mau mbak” “biarlah sedikit, tapi keluarga saya makan rejeki halal dan di ridhoi Allah”… Subhannallah.. terasa sejuk didadaku mendengar dia berkata demikian. Kalimat surga, yang keluar dari mulut orang sederhana dan nyatanya tidak berpendidikan.. Seandainya para koruptor dan keluarganya mendengar ini…
Kami sekeluarga sadar, bahwa apa dan seberapa banyak yang telah kami berikan terhadapnya dan keluarga tidaklah pernah dapat mencukupi sebanyak yang dia berikan terhadap keluarga kami..
Hanya terselip do’a disetiap sujud kami dan kami berusaha untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi seperti kalian..

