Feeds:
Tulisan
Komentar

Sekarang

Kalau engkau hendak berteriak

Berteriaklah sekarang

Kalau engkau hendak memaki

Memakilah sekarang

tapi ingat..

bercerminlah engkau sebelum memakiku

Dan…

waktumu tidak banyak

Kalau engkau hendak bersimpuh

Bersimpuhlah sekarang

Kalau engkau hendak Menangis

Menangislah sekarang

Sebaiknya semua itu kau lakukan dengan penyesalan yang dalam..

Sayangnya…

Aku sangsi engkau mampu melakukannya…

Pria itu…(2)

Masih dengan sesal yang sama..

yang sungguh menyesakkan dada, aku melaju dengan tangan memegang kendali atas benda beroda empat ini..

Menyesal.. ” Ah.. kamu kurang berusaha..”

dan.. berharap, kesempatan itu datang lagi.

Semua urusanku selesai siang ini. Aku putar kunciku untuk menyalakan mesin dan segera keluar dari sini, segera sampai dirumah, segera merebahkan tubuh ini yang sudah mulai protes karena kelelahan.. Rupanya, aku telah memanfaatkannya secara berlebihan.. hmmm. Tak terasa…

Setelah, memberikan seulas senyum dari tenaga yang tersisa kepada pak Satpam. mobilku meraung, karena aku menginjak gas dengan brutal. Ingin segera sampai rumah… Mobilku meluncur dengan kecepatan sedang, tidak pelan, tidak pula aku ngebut..

Sesaat aku tersentak!..

orang itu.. ditepi jalan..

Pria itu, pria yang sama aku lihat di sekitar 10km dari sini. Jalan melulu kah dia? atau naik angkot?.. Jalan aku kira.. ini analisaku setelah memandang leb ih lekat pada keringat yang berebut meleleh didahi dan lehernya. Belum titik besar yang siap membentuk aliran untuk membasahi wajah berkulit gelap, terbakar matahari.Dengan lancar, menelusuri jalan dengan tongkatnya, dibawah matahari yang masih sama kekejamannya untuk menyengat kulit siapa saja…

Aku melewatinya masih dengan tertegun. ” Inikah kesempatan kedua untukku?”

Aku mulai panik mencari arah putar balik… “Aku harus manghampirinya, aku harus!” tekadku..

” Ya, Allah.. beri aku kemudahan ya Allah… ijinkan aku ya Allah” Aku mulai menangis.

” Kenapa dengan orang-orang ini? Tolong Beri aku jalaaan… aku mau putar balik”

“Aku mau kejar pria itu… Ya, Allah… aku hanya mengharap Ridho-Mu”..

aku mulai tak tenang, tangan yang menggegam setir mulai bergetar, aku mulai hopeless, karena tak kunjung mendapat tempat dan kesempatan untuk putar balik. Kenapa jalan ini tiba-tiba terasa sempit?? kenapa tiba-tiba tidak tempat untuk putar balik.. kenapa semua kendaraan, angkot,mobil, motor begitu kencang dan terburu-buru, seakan menghalang-halangi aku??..

Aku semakin tidak tenang… sesekali melirik ke spion, takut kehilangan pria itu.

“Ah… didepan aku bisa..”

Aku bunyikan klakson mobilku. Dia menepi..

“Pak, Saya mau beli kerupuk”

“Berapa Bu?”

Pemilik Warung tepi jalan itu memandangiku… Aku berikan senyumku..

“Jam berapa tadi berangkat? sudah banyak yang laku?” tenggorokanku dingin seperti habis minum air es..

” Habis Sholat Subuh, bu.. “

” Alhamdulillah, sudah banyak…” jawabnya datar dan bingung. mungkin tidak semua pelanggan bicara banyak padanya..

” Saya tadi liat bapak dilampu merah Puri Indah, bapak cepat sekali sampai disini? Jalan atau naik angkot?”tanyaku penasaran..

” Jalan Bu.., saya sudah hafal ” jawabnya seraya tersenyum.

” Semoga hari ini berkah ya Pak…” tambahku.. aku sendiri tidak tau apa yang barusan aku bicarakan. Aku selipkan uang pembayaran ketangannya..

” Wah.. bu, gak ada yang lebih kecil? saya gak ada kembaliannya bu..”

” Tunggu sebentar, saya tukar dulu ya bu? Yang ini saya kembalikan..”seraya menyerahkan lembar kertas kedua kepadaku.

Apa?.. Subhannallah..

dia beranjak meraih tongkatnya hendak menuju warung pinggir jalan.

” Ndak usah Pak.. itu untuk Bapak..” tahanku..

“Terima kasih bapak sudah menolong saya..”

” Terima kasih bu.. Terima kasih banyak.. semoga barokah..”

dia membungkuk berkali-kali, wajahnya cerah sambil kebingungan..

Sekali lagi aku selipkan kertas berharga itu ditangan kasarnya..” untuk beli es Pak, panas sekali hari ini” tambahku..

“Tidak usah ibu.. terima kasih.yang tadi sudah lebih dari cukup” disorongkannya genggaman tangan berisi uang tadi kepadaku dengan bingung..

Aku sorong balik.. Aku beranjak ke mobil dengan tersenyum. Dahaga yang tadi menggelegak tiba-tiba hilang, pusing dikepala karena kepanasan sirna. Tubuhku berasa seperti habis disiram air es.. segar!

Aku buka jendela ” Terima kasih banyak ya Pak, Assalamu’alaikum”

“Walaikumsalaam ibu, Saya ibu, yang banyak-banyak terima kasih” ujarnya dengan wajah dibalut senyum… Senyum dari Surga… ya aku merasa melihat senyum dari surga…

Aku lirik dari kaca spion… Pria Buta itu dituntun sang pemilik warung tepi jalan memasuki warungnya. Di sodorkannya Es Kelapa buatannya untuk Pria Buta penjual Kerupuk. Masih sempat aku melihat, Pria itu hendak membayar, tapi ditolak oleh si empunya warung. Mereka mengobrol dan tertawa..

Hatiku sesegar Es Kelapa yang diminum Pria Buta itu…

Alhamdulillah.. Alhamdulillah ya Allah.. terima kasih atas kesempatan indah yang Engkau beri hari ini..

Pria Itu..

Dipanggulnya semua kerupuk dagangannya dipunggung..

dengan tongkat setianya, ia meniti jalan hari ini..

Matahari dengan kekejiannya menyengat kulit siapapun yang berjalan dibawahnya. Ikhlas, Sabar dan Tegar tergambar jelas disetiap detil wajahnya

Merah..

warna lampu lalu lintas membuatku harus menghentikan mobilku. Aku pandangi Pria bertongkat itu. Usianya mungkin sebayaku..

Masih terasa kering tenggorokanku, menyesal rasanya kenapa tadi aku tidak membeli minum sehabis belanja di supermarket.. Rasakan sekarang.. kering kerongkonganmu.. tak terhingga..Siapa mengira, matahari hari ini akan menguapkan begitu banyak cairan dalam tubuhku.

Pandanganku tak bisa lepas dari Pria berkacamata hitam dan bertongkat itu, dia masih setia mengukur jalan disiang yang terik.. kini dia berjarak 3 mobil didepanku.. Aku menelan ludah, upaya menghilangkan perih, keringnya tenggorokkan.. bagaimana dengan dia?

Aku, didalam mobil ber-ACku saja tersiksa… bagaimana dengannya?

Entah darimana, siapa yang membisikkan.. Aku tidak tahu,tiba-tiba ada sesuatu yang menekan dadaku dan suara itu mendengung ditelingaku, bergema dikepalaku…

” Kejar dia… Kejarlah dia..Bersyukurlah kepada Allah”

Hijau!!

“Dimana dia?.. dimana?…”mataku berkeliaran, memelototi setiap orang dipinggir jalan, sekaligus berusaha konsentrasi dengan antrian panjang membosankan ini.

Antrian mobil memanjang…dia tak tampak.Cepat sekali dia berjalan?? “Subhannallah”

“Ah…, Jalan akhirnya, lancar pula” kakiku mulai menginjak gas.

” Yaaah… kenapa aku terlalu cepat mengemudikan mobilku?” dengan kecewa aku meliriknya di kaca spionku.. dia disana, ditepi jalan.. dan aku tak bisa menghentikan mobilku semauku. Semua lelah mengantri begitu lama dan bisa dipastikan bila aku menepi akan membuat semua orang marah disiang bolong dengan matahari yang dengan senang hati bersinar terik dengan teganya..

” Ya Allah.. aku hanya ingin berbagi dengan hamba-Mu yang itu, ya Allah..”

Air mata mulai berombak dipelupuk mataku, membuat pandanganku kabur..

” Ya Allah ijinkanlah ya Allah.. aku hanya mengharap Ridho-Mu” aku mulai menjerit dalam hati..

terus aku berdo’a mengharap Ridho-Nya, jika aku tak diijinkan membantu Pria Buta tadi.. paling tidak ijinkan aku memanjatkan do’a untuknya, agar di beri kemudahan hari ini dan seterusnya.. Amiin

Mobilku mulai melaju lancar.. dia sudah tak tampak dikaca spionku..

dan.. pedih hatiku mulai berupa sungai kecil yang mengalir dipipiku..

“Semoga ada orang lain yang meringankan bebanmu hari ini Pak” do’aku.

Maafkan Ibu… Nak..

“Tunggu Ibu dikamar….” hardikku keras

“mbak Thea dan Ibu harus bicara…” tambahku sambil mematikan mesin mobil.

begitu menutup pintu mobil, Buah Hatiku hanya berani jalan menunduk..

melepas sepatu dan kaos kakinya dengan jengah…

Dia tau yang akan dihadapinya… dia tau betul itu.

teriris hati ini melihat raut wajahnya.. tapi aku harus bicara padanya…

Sambil duduk bersila diatas tempat tidur dan sprei yang terasa dingin,kami duduk berhadapan, saling menatap….

“mbak Thea tau salahnya apa?…” Aku membuka dengan nada lembut (sungguh aku berusaha selembut mungkin)

Dia mengangguk…

“Kenapa?”… ” mbak Thea seneng dihukum guru?, dimarahi Ibu & Ayah?” berondongku..

Dia menggeleng….

Aku menghela nafas..

Dalam hati aku berdoa, Ya Tuhan… beri aku kesabaran dan hati yang jernih…

Aku tarik pergelangan tangannya,

Aku genggam..

“Mbak Thea tau arti Bahagia”

Matanya tetap menatapku dengan menerawang…

” Bahagia… is… Happy..”

Dia mengangguk…

Hatiku terasa perih… bibirku terasa kelu, tenggorokanku terasa kering..

untuk memuntahkan kalimat berikutnya…

“Apakah mbak Thea gak Bahagia?”

aku tidak mempercayai apa yang barusan terlontar keluar dari mulutku..

Selama ini aku tidak pernah menanyakannya, karena permata hatiku anak yang ceria, ceriwis dan lincah..

Aku harus siap…. aku harus siap… bisikku pada diriku sendiri

Tangan mungilnya masih dalam genggamanku…

Dia menggeleng….

Aku rengkuh dia dalam pelukku…

menangislah nak…

menangislah sepuasmu dalam peluk Ibu…

menangislah sepuasmu dipangkuan Ibu…

“Maafin mbak Thea ya Bu….” ditengah isak tangis dan derai air matanya…

“Maafin Ibu juga mbak Thea…” ku eratkan dia dalam pelukku..

Ku belai…

Ku kecup.. air matanya yang mengalir dipipi….

Sampah organik yang dihasilkan oleh sebuah rumah tangga atau 1 kepala keluarga (KK) yang beranggota 5 orang (Bapak, Ibu, 2 anak dan 1 pembantu) setiap hari kurang lebih 2 kg. Kalau sebuah Rukun Tetangga (RT) terdiri dari 40 KK dan sebuah Rukun Warga (RW) terdiri dari 10 RT, maka bisa dihitung berapa jumlah sampah organik yang memerlukan pengelolaan selanjutnya, atau biasa disebut “dibuang”.

Untuk mengubah pola pikir bahwa sampah kita tanggung jawab kita yang menghasilkan, dan mengubah kebiasaan membuang sampah menjadi mengelola sampah perlu upaya yang tidak mudah dan memerlukan waktu dan kesabaran.

Dari pengalaman dan pembelajaran, Kebun Karinda menawarkan sebuah model bagi RT/RW yang ingin mandiri dalam pengelolaan sampah organiknya, namun untuk keberhasilannya diperlukan beberapa syarat:

1. Kegiatan ini diorganisir oleh pemimpin masyarakat setempat (Ketua RT/RW), dibantu sebuah tim pelaksana (Komite Lingkungan).

2. Ada keteladanan dari para pemimpin masyarakat, tokoh masyarakat, pemuka agama yang menjadi panutan masyarakat setempat.

3. Dibangun komitmen di antara seluruh warga, lingkungan bagaimana yang ingin dicapai.

4. Ada pendampingan agar kegiatan berkelanjutan, kader/motivator yang mendampingi harus sudah berpengalaman melakukan pengomposan.

5. Proses pengomposan dipilih yang tidak menimbulkan bau ialah proses fermentasi.

Sampah organik rumah tangga yang segar dan lunak, sangat mudah dikomposkan. Pengomposan dapat dilakukan secara individual di setiap rumah atau secara komunal oleh Komite Lingkungan RT/RW.

Pengomposan Individual

Kebun Karinda menyarankan pengomposan dengan metode Takakura. Jika dilakukan dengan benar dalam proses tidak ada bau busuk, tidak keluar air lindi, dan higienis. Tidak memerlukan tempat luas, tetapi tidak boleh kena hujan atau sinar matahari langsung.

Wadahnya bisa keranjang cucian isi 40 L atau lebih dikenal dengan Keranjang Takakura, ember bekas cat atau kaporit (isi 25 L), drum bekas yang dipotong menjadi 2 bagian (isi 100 L), keranjang rotan atau bambu yang isinya lebih dari 25 L untuk mempertahankan suhu kompos. Pemilihan wadah tergantung bahan yang tersedia, selera dan banyaknya sampah setiap hari.

Sampah organik dipisahkan dari sampah anorganik (kegiatan ini disebut “memilah sampah”) kemudian dicacah menjadi berukuran 2 cm x 2 cm agar mudah dicerna mikroba kompos. Untuk menyerap air dan menambah unsur karbon, ditambahkan serbuk kayu gergajian.

Sampah harus dimasukkan wadah kompos setiap hari (sebelum menjadi busuk) dan diaduk sampai ke dasar wadah supaya tidak becek di bagian bawah. Pengadukan juga dimaksud untuk memasukkan oksigen yang diperlukan untuk pernapasan mikroba kompos.

Jika wadah sudah penuh, kompos harus dimatangkan atau distabilkan dahulu sampai suhunya menjadi seperti suhu tanah, baru bisa dipanen. Pengomposan dimulai lagi dengan wadah lain, dengan aktivator sebagian kompos yang masih panas dari wadah pertama.

Kompos setengah jadi ini bisa juga dikirim ke pengomposan komunal untuk diproses bersama-sama. Sebagian ditinggal dalam wadah untuk dijadikan aktivator.

Warga akan mendapat hasil panen kompos, atau membelinya dengan harga khusus.

Pengomposan Komunal

Memerlukan bangunan tanpa dinding, atapnya bisa dari plastik terpal, daun kirai, plastik gelombang, genteng dan sebagainya tergantung dana yang tersedia. Lantainya bisa tanah, semen atau paving blok. Kita bisa menyebutnya sebagai “Rumah Kompos”.

Untuk wadah pengomposan sampah organik rumah tangga dapat dibuat bak atau kotak dari bambu, kayu, paving blok, bata dan sebagainya. Agar dapat menyimpan panas, kotak harus memiliki volume paling sedikit 500 L atau memiliki panjang 75 cm, lebar 75 cm dan tinggi 1 m. Salah satu sisinya harus bisa dibuka, untuk mengeluarkan adonan kompos jika seminggu sekali dibalik. Banyaknya kotak tergantung jumlah sampah yang akan dikelola.

Hal penting agar tempat pengomposan bersih dan tidak berbau busuk, sampah yang masuk hanya sampah organik saja. Warga harus memilah sampahnya di rumah masing-masing (mematuhi UU Pengelolaan Sampah).

Di depan rumah tidak perlu ada bak sampah, tetapi disediakan dua wadah sampah untuk sampah organik dan anorganik. Petugas pengangkut sampah mengambilnya dengan gerobak sampah yang diberi sekat. Sampah organiknya diturunkan di Rumah Kompos.

Selanjutnya oleh sampah organik dicacah secara manual atau dengan mesin pencacah. Jika menggunakan mesin pencacah, agar sampah tidak mengeluarkan air dan untuk menambahkan unsur karbon, dicampurkan terlebih dahulu serbuk kayu gergajian. Jika pencacahan secara manual, serbuk kayu dicampurkan sebelum masuk wadah pengomposan. Aktivator yang digunakan adalah kompos yang belum selesai berproses sehingga mikrobanya masih aktif.

Adonan kompos dari sampah organik rumah tangga jika diaduk setiap hari, akan matang dalam waktu kurang lebih 10-14 hari, namun harus distabilkan dahulu sampai suhu menjadi seperti suhu tanah, kira-kira makan waktu 2 minggu.

Jika akan dikemas sebaiknya diayak terlebih dahulu untuk memisahkan bagian yang kasar.

Jika tanah yang tersedia cukup luas dan sampahnya cukup banyak, pengomposan dapat dilakukan dengan sistem open windrow yaitu dengan timbunan-timbunan yang dibalik dan disiram setiap minggu.

Kompos setengah jadi yang dikirim oleh warga dicampurkan ke adonan kompos yang sudah berusia kurang lebih 2 minggu, dan akan matang bersama-sama.

Kualitas Kompos

Kompos yang dibuat melalui proses termofilik aerobik dan terkendali seperti ini, kualitasnya “super”. Kaya akan unsur yang diperlukan tanaman untuk tumbuh subur.

Kompos yang berkualitas baik berwarna hitam, berbau tanah, tekstur seperti tanah, kelembaban 30-40%, keasaman netral. Harganya bisa lebih dari Rp.1000/kg, bahkan Rp.2000/kg. Jika ingin ditingkatkan lagi harganya, kita bisa membibit dan menjual tanaman bunga, sayuran dan tanaman obat yang dipupuk dengan kompos buatan sendiri.

Tim Pelaksana

Dibentuk Komite Lingkungan oleh Pengurus RT/RW dan selanjutnya diperlukan peran serta warga sehingga kegiatan ini menjadi Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat.

Tugas dan tanggung jawab masing-masing:

1. Komite Lingkungan:

- Relawan yang peduli lingkungan, memiliki kemampuan dan waktu.

- Mengorganisasi warga dalam kegiatan Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat.

- Melatih dan meningkatkan keterampilan kader sebagai motivator dan tenaga pelaksana pengomposan.

- Mengendalikan proses pengomposan agar dihasilkan kompos yang memenuhi syarat.

2. Dewan Kelurahan, Tim Penggerak PKK dan Karang Taruna

- Menjadi relawan kader lingkungan, sebagai motivator dalam kegiatan Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat.

- Para kader/motivator harus sudah melakukan pengomposan.

- Mengajarkan dan menggerakkan warga untuk memilah sampah.

- Pendampingan dalam proses pengomposan di rumah tangga.

3. Petugas Pelaksana Pengomposan

- Merupakan tenaga tetap yang melaksanakan proses pengomposan.

Usaha Mandiri RT/RW

Untuk mewujudkan unit pengelolaan sampah ini perlu disusun proposal yang disusun oleh Pengurus RT/RW, yang berisi kebutuhan sarana dan prasarana, SDM, jadwal pelatihan TOT kader/motivator, prospek ke depan. Diharapkan kegiatan Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat ini nantinya dapat mandiri dari penjualan kompos dan produk-produk turunannya (tanaman hias, sayuran, tanaman obat).

Lingkungan menjadi bersih, teduh dan asri, masyarakat terjaga kesehatannya karena pengelolaan sampah merupakan bagian dari perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Mudah-mudahan tulisan ini dapat memberikan inspirasi bagi Pengurus RT/RW yang ingin mandiri dalam mengurus sampah warganya. Tentunya tingkat keberhasilan akan lebih tinggi jika aparat di atasnya (Lurah, Camat Bupati/Walikota) dan instansi terkait ikut berperan serta dengan memberikan dorongan dan apresiasi.

Tulisan ini saya copy dari blog Ibu Sri Murniati Djamaludin Suryohadikusumo

“Sederhana, kurus, rambut lurus dan tas cangklong panjang”

Itu adalah jawaban teman SMA-ku ketika aku tanya apa yang dia inget dari diriku…

bottom line-nya adalah, setiap bertemu teman lama… komentar mereka ttg diriku hanya satu, yaitu SEDERHANA…

Ada rasa bangga dan haru menyelinap dihati ketika menyebut kata2 itu ttg aku… paling tidak ternyata mereka memberikan perhatian pada kepribadianku.. yang menurut aku pada saat itu biasa aja.. dan normal2 aja…

Namun…,

Ada pertanyaan yang nyangkut dikepala ketika kata2 itu semakin sering disebutkan oleh teman2 lama yang sudah 10th lebih tidak bertemu…

“Apakah aku masih sesederhana dulu?” atau “Apakah aku bisa tetap menjadi pribadi yang sederhana?”

Semoga……

Semoga…..

Akhirnya ibu bisa liat bunga wijayakusuma ibu mekar….

5 kuncup lagi!… secara, udah 2 kali gagal liat waktu mereka berkembang indah..

Kali ini,.. ibu puas-puasin!!…

hmmmm…. harumnya…

Penelitian psikolog Kanada terbaru menunjukkan, makin banyak uang yang Anda sumbangkan menolong sesama, maka Anda makin bahagia!

Semakin besar uang yang dibelanjakan orang untuk menolong sesama, atau dalam rangka memberi hadiah untuk orang lain, maka si dermawan tersebut akan bertambah bahagia. Demikian hasil kajian Elizabeth Dunn, pakar psikologi dari University of British Columbia, Vancouver, Kanada.

Rincian penelitian ini diterbitkan baru-baru ini di jurnal ilmiah terkemuka dunia, Science, volume 319, tanggal 21 Maret 2008. Dimuat di halaman 1687-1688, karya ilmiah mengejutkan itu terpampang dengan judul “Spending Money on Others Promotes Happiness” (Membelanjakan Uang untuk Orang Lain Meningkatkan Kebahagiaan).

Memenangkan undian atau kuis berhadiah uang miliaran barangkali merupakan simbol kebahagiaan. Namun, penelitian terkini tersebut menjungkirbalikkan ilmu ekonomi yang selama ini diajarkan turun-temurun tersebut.

Temuan itu menunjukkan, yang terpenting bukanlah jumlah uang yang kita punya, tetapi bagaimana kita membelanjakannya! Orang yang menyedekahkan uangnya untuk membantu mereka yang membutuhkan, atau berbelanja hadiah untuk diberikan kepada orang lain ternyata lebih bahagia daripada mereka yang menghamburkan uang untuk kepuasan diri sendiri.

Penelitian terkait sekitar 3 tahun sebelumnya memperlihatkan bahwa kaum kaya sedikit lebih bahagia daripada kaum miskin. Akan tetapi kaitan antara kekayaan dan kebahagiaan tersebut lemah, dan pakar ekonomi berusaha keras mencari penjelasan atas pertanyaan, misalnya, mengapa di Amerika Serikat warganya tidak menjadi lebih bahagia ketika harta benda mereka semakin berlimpah.

Demikian tulis Elsa Youngsteadt yang mengulas hasil penelitian Elizabeth Dunn itu di ScienceNOW Daily News, 20 Maret 2008 dengan judul “The Secret to Happiness? Giving”. (Rahasia Menuju Bahagia? Memberi). Hasil temuan yang sama ini dikupas oleh Brendan Borrell di majalah ilmiah kondang, Nature, di bawah judul “Money buys happiness. Especially if you give it away.” (Uang membeli kebahagiaan. Terutama jika Anda Menghadiahkannya).

Sang peneliti, pakar psikologi sosial, Elizabeth Dunn, dalam kajiannya ingin menemukan jenis pembelanjaan uang seperti apa yang sebenarnya membuat orang bahagia. Ia dan rekannya meneliti 109 mahasiswa universitasnya. Tidak heran, kebanyakan berkata bahwa mereka lebih bahagia dengan uang 20 dolar ketimbang hanya 5 dolar. Para mahasiswa itu menambahkan bahwa mereka akan membelanjakannya untuk diri sendiri ketimbang untuk orang lain.

Di sisi lain, Dunn dan timnya memberi 46 mahasiswa lain dengan amplop berisi uang 5 dolar atau 20 dolar, tapi tidak membiarkan mereka bebas memilih untuk apa uang tersebut akan dibelanjakan. Yang dilakukan peneliti itu adalah menyuruh mereka membelanjakan uang itu untuk hal-hal tertentu.

Menariknya, mahasiswa yang mengeluarkan uang untuk amal kemanusiaan atau membeli hadiah untuk orang lain pada akhirnya lebih bahagia dibandingkan mereka yang membelanjakan untuk kepentingan pribadi, seperti melunasi rekening atau bersenang-senang.

Ternyata fenomena ini tidak berlaku untuk kalangan mahasiswa saja. Kelompok penelitian Dunn juga melakukan jajak pendapat pada 16 karyawan di sebuah perusahaan di Boston sebelum dan sesudah mereka mendapatkan bonus dengan beragam besaran. Selain itu Dunn dan rekannya mengumpulkan data tentang gaji, pengeluaran, dan tingkat kebahagiaan dari 632 orang di seantero Amerika Serikat.

Kesimpulannya sungguh menarik. Di kedua kelompok orang tersebut, kebahagiaan ternyata ada hubungannya dengan jumlah uang yang dikeluarkan untuk orang lain daripada jumlah absolut bonus atau gaji.

Hasil temuan ini “membenarkan dugaan kami lebih kuat daripada yang berani kami impikan,” kata Dunn. Pengaruh membelanjakan uang demi kebaikan orang lain mungkin mirip olah raga yang memiliki pengaruh seketika maupun dampak jangka panjang, papar Dunn sebagaimana ditulis Elsa Youngsteadt.

Satu kali memberi mungkin menjadikan seseorang bahagia dalam sehari, tapi ketika kebiasaan memberi ini menjadi sebuah cara hidup, dampak kebahagiaan itu bisa menjadi sangat lama, papar Dunn.

Yang tak kalah menarik, di akhir tulisan ilmiahnya, sang pakar, Dunn, berharap bahwa temuannya itu suatu saat bisa dijadikan bahan pertimbangan bagi pembuat kebijakan dalam menganjurkan sikap kedermawanan kepada warganya yang mengabaikan manfaat sikap positif ini. Menurutnya, hal ini dalam rangka menciptakan warga negara yang cenderung memberikan harta mereka untuk kebaikan orang lain, sehingga bertambahnya kekayaan warga beriringan dengan semakin meningkatnya kebahagiaan warga negeri tersebut.

Pakar ekonomi Andrew Oswald dari University of Warwick, Inggris, menganjurkan bahwa hasil kajian ini perlu dikukuhkan lebih lanjut dengan memperbesar jumlah orang yang diteliti, hingga mendekati 1000 orang, agar kesimpulannya benar-benar meyakinkan. Terlepas dari itu, Oswald berujar bahwa hasil penelitian Dunn bakal mengejutkan kebanyakan pakar ekonomi. Sebab selama ini mereka beranggapan bahwa membelanjakan uang untuk diri sendiri memberikan kebahagiaan terbesar.

“Ini adalah hasil temuan yang membuat penasaran yang tidak akan Anda temukan di 101 buku pelajaran Ekonomi,” kata Oswald.

(cs/ScienceNOW Daily News/hidayatullah)
www.hatibening.com

Tobaaat…Biyuuung!

Long weekend harusnya dinikmati dengan kebahagiaan dan bercape2 dengan hal2 yang bikin hati happy juga…

Sayangnya… tidak bagi saya..Sabtu pagi driver-ku dan istrinya, yang tidak lain adalah asisten-ku untuk urusan RT bag belakang minta ijin pulang hari itu juga!!!… Tidak bisa ditawar!

Untuk berapa lama? Mereka tidak menjawab…

Langsung aku merefleksi diri… ada apa ya? aku melakukan kesalahan apa ya?…

Ya sudah… mereka punya hak kok untuk pulang kapan saja… tapi untuk kembali lagi?… kaya’nya saya harus pikir2 untuk menerima kembali… hehehe… melihat dan menimbang apa yang sudah mereka tinggalkan pada diriku… (hehehe…. secara, kendaraan kami dua-duanya ditinggalkan dengan keadaan cacat yang cukup bikin geregetan untuk memperbaikinya….^_^)

Hello You there..

Welcome to my humble site…

« Newer Posts